Panen Jati Lima Tahun

Panen Jati Lima Tahun

Cici membudidayakan jati di lahan seluas 2 hektar di Sukabumi, Jawa Barat. Populasi per hektar 1.600 pohon. Saat umur pohon 5 tahun ia melakukan penjarangan dengan menebang setengah populasi tanaman. Lima pohon jati menghasilkan 1 meter kubik kayu. Ia menjual kayu hasil penjarangan itu kepada pengusaha furniture di Jawa Tengah. ‘Sisanya dipanen 4-5 tahun lagi supaya tumbuh lebih besar dan harganya lebih mahal,’ kata Cici.

foto3Untuk menjual kayu jati, Cici tidak mengalami kesulitan. Pembeli datang langsung ke kebun sehingga ia tidak perlu menebang sendiri. ‘Saya sudah terima beres saja,’ kata Cici. Menurut Cici yang penting adalah kebun punya surat-surat lengkap. Surat yang dimaksud adalah surat kepemilikan lahan dan surat keterangan dari kelurahan bahwa jati yang ditanam adalah hasil budidaya. ‘Sehingga saat penebangan tidak dianggap ilegal logging. Cukup lapor kembali ke kelurahan bahwa jati yang dulu ditanam mau dipanen,’ ujar Cici jual bibit jati.

Menurut Alit Yulianto SH, direktur PT Gama Surya Lestari, produsen bibit jati di Jakarta, untuk beberapa daerah seperti Jawa Barat dan Jawa Timur sebelum dipanen pekebun memang harus melapor terlebih dahulu ke kelurahan. Namun di Jawa Tengah pekebun dapat langsung memanen tanpa harus lapor. ‘Untuk pelaporan ke kelurahan, setiap daerah punya kebijakan masing-masing. Ada yang perlu lapor, ada yang tidak,’ kata Alit.

Ekosistem
‘Tetapi bila panen dalam skala luas, misal 20 ha, maka perlu lapor pada Departemen Kehutanan setempat,’ ujar kelahiran Blora 25 Juli 1975 itu. Tujuannya untuk mengetahui apakah lahan bisa ditebang sekaligus atau harus ditebang bertahap. Sebab, penebangan dalam skala luas akan berpengaruh terhadap kondisi ekosistem hutan. ‘Biasanya untuk skala luas penebangan dilakukan bertahap, 1-2 hektar dulu. Setelah itu lahannya langsung ditanami bibit baru lagi. Dua atau tiga tahun kemudian baru bisa dilanjutkan penebangan kembali,’ kata Alit.

Bila menjual langsung ke pabrik biasanya dihitung kubikasi. Sedangkan bila dijual pada pengepul, transaksi dihitung berdasarkan jumlah pohon yang ditebang. Misal kayu berdiameter 14 cm dihargai Rp500.000 per pohon. Setelah itu baru pengepul menjual ke pabrik dalam kubik. Pengepul sengaja membeli per pohon karena kebanyakan pekebun kurang memahami taksiran kubikasi per pohon. Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi pengepul yang lebih mengerti tentang taksiran kubikasi kayu.

Panen yang dilakukan pekebun saat ini merupakan hasil dari budidaya jati varietas genjah yang marak ditanam beberapa tahun lalu. Kayu jati berumur 5-6 tahun itu biasanya dimanfaatkan oleh pengusaha furniture untuk membuat kusen, aneka mebel dan pintu. Cici adalah salah satu pekebun yang kini menuai hasil dari budidaya jati genjah. Waktu itu jati genjah menjadi primadona karena berumur pendek-5 tahun sudah bisa dipanen.

Realestate
Menurut Santi Mia Sipan, direktur PT Sugih Agro Sejati, produsen bibit jati arthamas di Jakarta, penjualan jati terus meningkat dari tahun ke tahun. ‘Pertumbuhan permintaan 20% per tahun,’ kata Santi. Hal serupa juga dialami oleh Alit, dua tahun terakhir tak kurang 400.000 bibit jati per tahun laku terjual. Ia menjual bibit kepada pekebun di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi. Begitu pula dengan Ashari Buwono, manajer produksi PT Setyamitra Bhakti Persada di Tegal, yang menargetkan produksi 3-juta bibit jati untuk 2009 ini.

Untuk mewujudkan keinginan konsumen membudidayakan jati, dalam 2 tahun terakhir, Santi membuat realestate jati, semacam investasi perkebunan jati. Lahan yang ditawarkan di Jonggol, Kabupaten Bogor dan Wirosari, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Program realestate jati terutama ditujukan bagi mereka yang tak cukup banyak waktu untuk mengelola lahan, merawat bibit, dan mengurus perizinan lahan. Program itu diminati banyak konsumen. Bahkan beberapa ekspatriat asing pun ikut menjadi investor.

Saat ini sudah 200 ha terjual,’ kata Santi. Investasi jati mengingatkan kita pada program sejenis yang marak pada 2000-an. Saat itu beragam komoditas-terutama sayuran-diinvestasikan. Bedanya dengan investasi jati, Santi mengurus kepemilikan lahan melalui notaris. Setiap pembeli-investor-mempunyai surat kepemilikan tanah. Ketika Trubus ke kantornya, Santi menunjukkan beberapa surat kepemilikan tanah milik investor yang belum diambil.

Program realestate jati memang sengaja melibatkan notaris. Tujuannya supaya tidak ada masalah di kemudian hari tentang kepemilikan tanah. Harap maklum, umur produksi jati relatif lama, minimal 20 tahun. Populasi per hektar 1.333 pohon. Harga investasi di Jonggol Rp251.650.000 per hari.

Harga itu sudah termasuk lahan, pengurusan surat kepemilikan lahan, pengolahan tanah, penanaman, dan perawatan selama 3 bulan pertama pascapenanaman. Perawatan berikutnya, Santi menyediakan tenaga kerja dengan biaya Rp600.000 per orang per ha per bulan. Setiap 2 pekan, Santi memberikan laporan perkembangan tanaman plus foto yang dikirim kepada investor melalui surat elektronik.

Geliat penanaman jati memang tak pernah surut. Pohon anggota famili Verbenacea itu dianggap sebagai tabungan masa depan karena harganya yang menjulang setelah ditanam bertahun-tahun. Menurut Alit harga jati berumur 50 tahun mencapai Rp30- juta per meter kubik.